Assalamu'alaykum, Selamat datang di blog pernikmuslim.com

Customer Friend kami siap membantu

  • Telepon (031) 6010 3503

  • SMS 0856 336 4677

  • Yahoo! Chat

Mengapa Cek Cok Itu Bahaya?

Ditulis tanggal November 21st, 2012 oleh

Dalam kehidupan rumah tangga, wajar-wajar saja suami dengan istri mengalami perselisihan karena berbagai masalah yang mereka hadapi. Bisa berupa masalah prinsip, perbedaan, sikap mendasar dan watak yang sudah mendarah daging, atau hanya karena persoalan-persoalan sepele yang menggurita. Akhirnya timbullah percekcokan, muncullah kegersangan hidup, dan tidak jarang memuncak menjadi perceraian!
Biang Keladi Percekcokan

Perlu dimaklumi, di antara faktor yang dapat menimbulkan percekcokan antara suami istri adalah tidak adanya perasaan saling memahami antara kedua belah pihak. Islam telah menetapkan adanya kewajiban saling memahami antara pasutri, bahkan menganjurkan dan mewajibkan mereka untuk menunaikan hak dan kewajiban mereka secara benar.
Allah berfirman,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan ‘ daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 228)

Ayat ini menegaskan, segala hak yang dimiliki pasutri, diimbangi dengan adanya kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada pasangannya. Dengan cara itulah akan tercipta keseimbangan antara keduanya dalam berbagai sektor yang dapat mendukung kenyamanan hidup berkeluarga.

Ibnu Abbas – rodhiyallohu ‘anhu – menyatakan, “Mereka memiliki hak untuk dipergauli dengan baik oleh suami mereka sebagaimana mereka memiliki kewajiban untuk menaati sang .suami.”

Ibnu Zaid menyatakan, “Hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dalam memelihara hak mereka, sebagaimana mereka juga harus bertakwa kepada Allah dalam memelihara hak-hak kalian.”

Sementara Imam al-Qurthubi menyatakan, “Ayat tersebut meliputi seluruh hak-hak suami istri, yang di antaranya adalah sikap tidak terlalu memerhatikan kekeliruan dan kekhilafan masing-masing, terutama yang dilakukan bukan untuk tujuan yang jelek, baik itu ucapan maupun perbuatan.”

Sementara dalam hadits Anas – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa Nabi bersabda, “Setiap Bani Adam itu selalu berbuat keliru dan sebaik-baik orang yang keliru adalah yang se1alu bertaubat.” (Riwayat at-Tirmidzi dalam al-Jami’ ash-Shahih : IV)

Pasutri hendaknya memahami pasangannya. Setiap manusia pasti memiliki kekeliruan. Dan orang yang paling berhak untuk dipahami oleh seseorang adalah orang yang paling banyak berinteraksi dalam


Baca selengkapnya

Ijab Qabul Harus Satu Nafas

Ditulis tanggal November 20th, 2012 oleh

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
ustadz yang saya hormati, setiap saya menghadiri akad nikah, sebelum ucapan ijab qabul dimulai bapak penghulu menjelaskan kepada calon mempelai pria bahwa nanti dalam mengucapkan qabul harus bersambung/tidak terputus dengan ucapan ijab dari wali dan bahkan ada yang mengatakan harus diucapkan dalam satu nafas. Apakah memang seperti itukah di dalam sunah? dan kalau dalam Kompilasi Hukum Islam, pada Hukum Perkawinan bagian kelima Akad Nikah pasal 27 disebutkan: “Ijab dan qabul antara wali dan calon mempelai pria harus jelas beruntun dan tidak berselang waktu.” Mohon Ustadz jelaskan maksud dari beruntun dan tidak berselang waktu. Atas jawabannya saya ucapkan terima-kasih banyak.

Jawab:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Untuk menjelaskan masalah ini perlu dijelaskan bahwa disyaratkan dalam ijab qabul beberapa syarat diantaranya:

– Ijab harus sesuai dengan qabul[1] dalam ukuran, kriteria, pembayaran dan temponya. Apabila penjual menyatakan : Saya jual rumah ini seharga 300 juta lalu pembeli menjawab: Saya terima penjualannya dengan harga 250 juta maka akad jual belinya tidak sah.
Apabila qabul menyelisihi kandungan ijab, maka akad atau transaksi


Baca selengkapnya

Khasiat Jeruk Nipis untuk Kesehatan

Ditulis tanggal November 19th, 2012 oleh

Citrus aurantifolia yang dikenal juga dengan nama jeruk nipis.niah jeruk nipis ini berbentuk kecil mungil dan memiliki rasa yang mirip dengan lemon. Warna kulit buahnya hijau dan kuning jika sudah masak.

Dalam dunia kecantikan , jeruk nipis dapat digunakan untuk mencerahkan kulit dan mengecilkan pori-pori dengan cara dipakai untuk masker. Sedangkan pada kuliner jeruk nipis lebih dikenal dengan penyegar, minumam, tambahan dalam membuat sambal, dan bisa membantu menghilangkan bau amis. Dan tidak ketinggalan dalam bidang kesehatan jeruk nipis pun memiliki khasiat yang cukup banyak. Apa saja khasiat dari jeruk nipis, mari simak catatan ini selengkapnya.


Baca selengkapnya

Al Qur’an di atas Tanah

Ditulis tanggal November 19th, 2012 oleh

Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz. Mohon penjelasan tentang meletakkan mushaf Al-Qura’anul Karim di bawah (tanah/lantai) dan bagaimana seharusnya sikap kita? Kemudian siapakah yang dimaksud ahli kitab pada masa sekarang, apakah nashrani dan yahudi bisa disebut sebagai ahli kitab?
Jawaban:
Alhamdulillah washshalatu wassalaamu ‘ala man laa nabiyya ba’dah. Al qur’qn merupakan kitab suci yang harus kita mulyakan. Pertanyaan senada diajukan kepada Asy Syaikh Abdullah bin Baz tentang bagaimana hukumnya melatakkan mushaf Al Qur’an di bawah. Maka beliau menjelaskan, “Meletakkan mushaf di tempat yang tinggi lebih utama, seperti di atas kursi, rak yang menempel di tembok, atau yang semisalnya dari tempat yang tinggi di atas tanah/lantai.
Dan jika meletakkannya di atas tanah yang suci / lantai karena keperluan tertentu dan bukan dalam rangka menghinakannya, seperti ketika shalat sementara tidak didapati tempat yang tinggi, atau ketika hendak sujud tilawah, maka yang seperti ini tidak mengapa insya Allah dan

aku tidak mengetahui larangan dalam hal ini. Namun jika diletakkan di atas kursi, bantal atau yang semisalnya, atau di rak, maka ini lebih menjaga kehati-hatian (dari terjerumus ke dalam kesalahan).
Dan tsabit /telah tetap dari Nabi #n bahwa ketika beliau meminta didatangkan Taurat untuk dimuraja’ah (dilihat kembali) -karena orang-orang Yahudi mengingkari (pensyariatan) hukum rajam (ada dalam Taurat)-, beliau pun meminta untuk didatangkan sebuah kursi dan meletakkan Taurat tersebut di atasnya. Kemudian beliau memerintahkan untuk memuraja’ah kembali Taurat sampai ditemukannya ayat yang menyebutkan pensyariatan hukum rajam dan menunjukkan kedustaan orang Yahudi tersebut.
Jika kitab Taurat saja disyariatkan untuk diletakkan di atas kursi karena di dalamnya terdapat Kalamullah #l, maka Al-Qur`an itu lebih berhak untuk diletakkan di atas kursi karena Al-Qur`an lebih utama daripada Taurat.
Wal hasil, meletakkan mushaf Al-Qur`an di atas tempat yang tinggi seperti kursi, atau diletakkan di rak yang menempel dinding atau celah pada dinding tersebut, maka ini lebih utama dan yang semestinya dilakukan. Karena yang seperti ini menunjukkan pengagungan terhadap Al-Qur`an dan pemuliaan terhadap Kalamullah.
Namun kami tidak mengetahui ada dalil yang melarang orang meletakkan mushaf Al-Qur`an di atas tanah yang suci bersih / lantai jika memang dibutuhkan.
Allahu a’lam
Sedangkan maksud dari ahli kitaba adalah orang-orang yahudi dan orang-orang nashrani walaupun mereka syirik, dan kesyirikan ini telah ada pada mereka ketikaAl Qur’anditurunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah telah memberitahukan tentang perbuatan orang-orang nashrani bahwa mereka menuhankan Nabi Isa ‘alaihissalam dan bahwa mereka menjadikannya tuhan bersama Allah dan mereka menyembahnya bersama Allah, Allah berfirman,
“(Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:”Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata:”Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (Al Maidah: 72)
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan:”Bahwanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Ilah (yang kelak berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al Maidah: 73)
Sebagaimana juga Allah telah memberitakan tentang orang-orang yahudi, bahwa mereka berkata : ‘Uzair adalah anak Allah. Dan Allah telah memberitahukan tentang ahli kitab semuanya ( Yahudi dan Nashrani ) bahwa mereka menjadikan pendeta-pendeta mereka sebagai arbab ( tuhan-tuhan ) selain Allah, Sebagaimana firman-Nya (Orang-orang Yahudi berkata:”Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata:”Al-Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dila’nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling. (At Taubah: 30)
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb ) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (At Taubah:31) Dan firman Allah, “(Katakanlah:”Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:”Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali Imran:64)
Dan Allah telah memberitahukan bahwa mereka mengakui adanya tiga oknum yang mereka sembah


Baca selengkapnya

Bertaubat dari Pacaran

Ditulis tanggal November 16th, 2012 oleh

Assalamu ‘alaikum,
Sakinah, mohon maaf saya ingin bertanya tentang sesuatu. Saya (21th) saat ini berpacaran dan pernah berhubungan seks dengannya. Setelah melakukan kesalahan itu, saya menyadarinya sehingga saya tidak pernah mengulanginya lagi. Namun sampai sekarang status kami masih pacaran.
Lambat laun saya menyadari bahwa berpacaran yang saya lakukan sebenarnya sangat tidak disukai Allah walaupun tidak sampai berhubungan seks. Sebenarnya kami pun sekarang tidak pernah bersentuhan jika bertemu. kami juga sangat jarang bertemu. Kami hanya komunikasi lewat sms saja.
Sebenarnya saya ingin sekali putus supaya saya bisa lebih dekat ke Allah dan mohon ampun atas dosa-dosa saya dahulu. Tapi, saya udah berulang kali minta putus, namun dia tidak mau. Alasannya, dia yang telah merenggut kesucian saya, maka dia juga yang menikahi saya.
Selain itu, dia juga mengaku sangat mencintai saya dan gak bisa berpindah ke lain hati. Sebenarnya, dia udah pengin banget nikahin saya, tapi karena masih kuliah dan belum punya kerja, kami belum diperbolehkan menikah oleh ortu kedua belah pihak.

Jika saya minta putus ke dia, biasanya dia gak mau & menjadi sangat sedih. Dia bilang, selama ini semangat kuliah karena saya. Hal itu kadang membuat saya jadi kasian sama dia sekaligus kasian juga sama ortunya jika dia hancur kuliahnya cuma gara-gara saya putusin.

Selain itu, jika saya putusin pacar saya, saya juga jadi ga enak sama ortu dia, sebab kami udah kenal deket dan mereka udah setuju banget jika nanti saya yang jadi menantu mereka.

Sebenarnya, jika mutusin dia, saya bukan berharap supaya sata dapat yang lebih baik dari dia. Sama sekali bukan. Saya cuma ingin gak pacaran lagi supaya lebih dekat sama Allah, karena pacaran ini membuat saya terkadang gelisah jika tidak mendapat kabar darinya. Tapi di sisi lain, saya bimbang atas dua hal di atas. Selain itu, masa’ orang yang udah mau tanggung jawab dengan ketidakperawanan saya, saya sia-siakan??

Saya takut, jika nanti akhirnya kami benar-benar putus, dia akan menikah deng


Baca selengkapnya